haruskah aku menjadi pengantinmu

saat bukan aku yang bermain dalam benakmu

saat bukan aku yang setiap malam menemani mimpimu

saat bukan aku yang menjadi bagian dari cita-citamu

 haruskah aku melangkah ke gerbang itu

jika di sampingku hanya ragamu, bukan jiwamu.

 (diterjemahkan secara ngawur-ngawuran, dari entah lagu atau puisi)

 

aku dan tomatto berencana menikah.

tapi rasa takut seperti kutipan di atas masih membayangiku.

aku tidak tau bagaimana harus mengatasinya.

apakah setiap orang yang mau menikah memang punya ketakutan semacam itu?

kadang tiba-tiba aku ingin putus aja dengan dia. biar aku menjadi wanita yang diam-diam dia kirimi sms, dia abadikan lewat blog, dia kirimi lagu-lagu patah hati atau setidaknya ketika dia memutar berulang kali lagunya republik “hanya ingin kau tau” aku akan tau bahwa dia mengabadikan sebuah rasa untukku.

tapi aku wanita yang akan menikah dengannya,

dan aku takut jika aku bukan wanita yang ada dalam hatinya.

bukan belahan jiwanya dan bukan mimpi-mimpinya.

Iklan