You are currently browsing the monthly archive for Desember 2007.

reunion_cake.jpg

Selamat ulang tahun kekasihku

semoga hujan yang turun pagi ini membawa berkah bagimu

menyuburkan rasa cintamu padaku hingga berurat akar  dan berbuah

menumbuhkan setiap benih usaha yang kau semai menjadi pohon keberhasilan

Selamat ulang tahun kekasihku

Semoga Tuhan selalu bersamamu

*gambar kue diambil dari  micko.vitrolenta.net

Iklan

+ “Mengapa kamu mau bersamaku?”
– “Karena aku mencintaimu.”
– “Kamu, kenapa mau sama aku?”
+ “Aku juga mencintaimu.”

Dan hanya karena itu kita bersama

Kita sama-sama pernah terluka
Kita sama-sama pernah merasakan sakit

Karena itu kita tak akan pernah saling melukai
Karena itu kita tak akan pernah saling menyakiti

Aku dan kamu akan menjadi kita
Menjadi sepasang tangan yang akan meraih mimpi
Menjadi sepasang kaki yang berjalan menuju masa depan

Kali ini kita hanya akan bercinta
Kali ini kita hanya akan bahagia

(ini bukan puisi, hanya sebuah doa di pagi buta. Semoga Tuhan mengabulkannya. Amien)

Kalau ada orang lain (maksudnya bukan keluarga, bukan kekasih atau sahabat) yang paling aku rindukan saat ini adalah Mak Judi. Dia yang selalu mencuci dan menyeterika baju-bajuku. Seminggu dua kali dia juga bersih-bersih rumah. Klau aku sakit dia juga biasa datang untuk ngerok dan mijitin.

Tapi sejak sebelum puasa dia pergi ke Bandung. Menantunya meninggal dan dia harus menunggui cucu-cucunya di sana. Semula janjinya setelah lebaran dia akan balik ke Purwokerto, ternyata sampai sekarang belum muncul-muncul juga.

Yang merasa kehilangan bukan hanya aku. Mak Judi adalah perempuan yang kuat dan sehat. Tiap hari dia menjadi asisten rumah tangga di keluarga Pak Yani. Di sela-sela itu, dia masih membantu di rumahku, rumah Bu Siti dan tempat Bu Naryo. Jadi ketika Mak Judi pergi, tentu saja banyak yang kehilangan.

Sejumlah nama dimunculkan untuk menjadi pengganti Mak Judi. Mereka ini lalu diujicobakan. Tapi tampaknya belum ada yang cocok bagi kami semua. Rasanya nggak ada yang kerjaannya seberes Mak Judi.

Dan terakhir muncullah nama mbak-mbak ini. Tapi sayangnya dia sedang hamil. Aku langsung saja menolak ketika nama itu disodorkan. Bukan apa-apa, rasanya nggak tega banget. Apa lagi dia harus naik ke lantai dua untuk menjemur cucian.

Tapi sore itu aku hampir nggak bisa nolak ketika Bu Naryo, tetangga sebelah kembali menawarkan jasa mbak-mbak itu. “Ngga apa-apa mbak,  katanya kandungannya sehat. Dia sedang butuh uang buat beli popok kalau nanti anaknya lahir?” kata Bu Naryo.

Aku tidak langsung memberikan jawaban. Masih ada perang batin. Hmm…bagaimana ya, mempekerjakan perempuan hamil gede. Tapi dia butuh uang buat beli popok. Dan ini satu-satunya keahlian dia untuk mendapatkan uang. Pilihan yang sulit.

Aku terus memikirkannya. Perempuan hamil gede, harus cari-cari kerjaan seperti ini, emang suaminya kemana? Ngapain aja? Tapi ya sudah lah nggak usah ngurusin suaminya. Mungkin si suami juga dah kerja mati-matian tapi tetap nggak cukup buat membiayai persalinan dan membeli kebutuhan bayinya. Yang pasti, perempuan itu butuh uang.

Akhirnya aku memutuskan untuk menerimanya. Semoga ini pilihan yang tepat.