Namanya Sri. Kami lebih sering memanggilnya Si Sri. Umurnya aku tidak tau. Tapi sekarang ini dia duduk di kelas tiga SD. Dia adik sepupunya Tomato. (Ya mungkin calon adik sepupuku juga)
Selama ini aku memandang dia sebagai anak kecil biasa. Tapi semenjak puasa ini, aku melihat dia agak berbeda. Aku melihat dia sebagai seorang gadis kecil yang kuat dan punya pendirian.
Tadinya aku ragu dia bakal bisa puasa penuh. Ternyata dia bisa. Dibandingkan aku (waktu seumurnya) sebenarnya tidak begitu istimewa. Anak kelas tiga SD ya memang wajar jika sudah puasa penuh. Aku bahkan sudah puasa penuh sejak TK.
Tapi Si Sri bukan aku. Aku tumbuh dalam keluarga yang mendukung untuk itu. Bapak ibuku akan selalu membangunkan aku untuk sahur bersama. Bahkan waktu masih TK kadang aku minta gendong dari tempat tidur ke meja makan.
Bukan hanya itu, lingkunganku juga cukup mendukung. Aku menghabiskan sore mengaji di masjid. Di luar itu aku bisa bermain dengan teman-temanku. Atau kalau tidak, orang tuaku menyiapkan banyak buku bacaan dan majalah untuk aku baca.
Tapi Si Sri tidak. Pada jam makan sahur, orang tuanya sudah pergi ke pasar untuk berdagang. Di rumah dia hanya bersama dua orang saudaranya. Dan mereka tidak puasa meski usia mereka sebaya.
Sulit membayangkan dia harus bangun sendiri, sahur sendiri dan puasa sendiri. Tapi dia tegar. Tidak terusik.
Padahal tiga hari dalam satu minggu dia juga harus les. Tempat lesnya ini cukup jauh. Kira-kira setengah jam jalan kaki. Kadang dia jalan kaki, kadang naik sepeda (yang terlihat terlalu besar untuk badannya yang kecil).
Aku sangat paham dengan wajah kecewa yang dia tunjukkan saat tau aku tidak puasa dan tidak mau diajak tarawih. Waktu itu dia sempat mau mogok tidak ikut tarawih. Tapi akhirnya dia berangkat tarawih juga.
Bingung juga mau bilang apa. Sepertinya dia memang belum tau jika perempuan dewasa harus mengalami menstruasi dan tidak boleh puasa serta shalat.
Pertama aku memang tidak tau bagaimana menjelaskan soal menstruasi ini pada anak seusia dia. Kedua aku juga tidak tau apakah orang tuanya mengijinkan aku untuk menjelaskan soal-soal semacam ini. Siapa tau mereka beranggapan ini belum saatnya buat Si Sri tau soal reproduksi.
Jadi aku membiarkan saja dia beranggapan aku tidak puasa seperti halnya Nina dan Yani, kedua saudaranya.
Suatu hari ketika aku datang ke rumahnya dini hari untuk sahur dia tidak begitu antusias menyambutku. Tapi begitu tau aku akan sahur dia semangat banget untuk sahur bersama.
Aku sadar, dia memang butuh teman, sayangnya aku tidak mungkin setiap hari datang menemaninya sahur, berpuasa dan buka.

Iklan