Kalau ada yang tanya, kelompok musik mana yang paling aku benci saat ini, aku pasti akan menjawab dengan cepat dan tegas, “UNGU!” Itu gara-gara lagu barunya yang berjudul Kekasih Gelapku.

Untuk memberi gambaran yang jelas mengapa lagu itu menyebalkan, seharusnya aku mengutip liriknya. Tapi duh…aku ngga sudi banget.

Yang jelas siapa pun orangnya, nggak bakalan mau jadi pacar, kekasih, atau istri lelaki yang menyanyikan lirik-lirik seperti itu. Orang yang lebih sayang dengan kekasih gelapnya dibanding dengan kekasih “terangnya.”

Sebenarnya ini bukan lagu tentang perselingkuhan yang pertama. Sebelumnya juga sudah banyak lagu-lagu senada. Bahkan Ungu juga sudah  punya lagu tentang perselingkuhan  dalam album sebelumnya. Judulnya nggak inget.

Yang membuat aku senewen dengan lagu yang satu ini karena si Tomato, cowok yang di jari manisnya pake cincin berukirkan namaku, suka menyanyikannya. Kadang sambil merem-merem lagi. Duh…bete banget lihatnya. Kalau dah nyanyi-nyanyi di depan komputernya, dia bisa ngga peduli sama sekitarnya (baca; aku).

Jangan-jangan dia punya kekasih gelap neh.

Dan pikiran itu membuat hatiku semakin panas tiap denger dia teriak-teriak menyanyikan lagu baru favoritnya tadi.

“Itu khan cuma lagu,”tukasnya saat aku dengan emosi bertanya. “Hah!!! Kadang orang suka sama sebuah lagu karena lagu itu mewakili hatinya. Setidaknya lama-lama lagu itu juga bisa mempengaruhi hati dan pikiran,”seruku tambah emosi.

Belakang ini aku sering berpikir, lagu-lagu memang bisa mempengaruhi suasana. Kalau mendengarkan lagu-lagu melow, kita jadi sentimentil. Kalau mendengarkan lagu-lagu yang semangat kita jadi ikut bersemangat. Kalau ingin melakukan meditasi kita mendengarkan lagu-lagu yang membuat kita bisa konsentrasi mengheningkan cipta (berarti lagunya Gugur Bunga donk?).

Kalau sedang jatuh cinta, kita juga senangkan mendengar lagu-lagu cinta. Kalau patah hati pasti langsung larut dan cocok banget dengan lagu-lagu broken heart.

Lha kalau lagunya tentang perselingkuhan? Kebayang ngak sih kalau lagu yang dijiwai sedemikian rupa bisa membuat seorang terpengaruh. Jika yang terpengaruh hanya satu dua orang nggak begitu masalah. Bagaimana kalau kemudian lagu itu membuat pengaruh secara massal?

Pertama orang akan terbiasa dengan istilah kekasih gelap, cinta yang lain, kasih tak terungkap, teman tapi mesra. Setelah terbiasa dengan kata-kata itu, maka orang juga akan menjadi terbiasa dan semakin permisif dengan perilaku yang demikian.

Duh…

Iklan