Ketika saya memutuskan untuk menikah orang-orang dekat saya langsung berkata,”akhirnya.” Bagi mereka, keputusan itu seperti sebuah keajaiban yang datang begitu terlambat. Saya malah baru tau dari blog-nya Niken kalau ibu saya sebenarnya sudah berusaha ikhlas, tidak bisa menunaikan kewajiban terakhirnya sebagai orang tua, atas anak pertamanya ini.

Tapi seseorang membawa keajaiban itu. Seseorang yang membuat semua orang ingin tau mengapa dia bisa membuat saya mengambil keputusan besar itu setelah sekian lama. Setelah sekian banyak orang yang datang dan pergi dari kehidupan saya. Saya tidak bisa memberikan jawabannya. Tak ada kata yang tepat untuk menggambarkan semua rasa yang ada.

Dan akhirnya saya memang menikah. Hari kamis, 1 mei 2008 menjadi awal dari babak baru hidup saya. Semua keluarga dan teman-teman saya bahagia. Dan saya, tentunya menjadi orang paling bahagia. Semoga Allah menyatukan kami dalam kebaikan.

Iklan

“mbak harganya sekarang ternyata dah 400 ribu.”

“sekarang malah dah 500 ribu lho mbak.”

“edan, sekarang malah jadi 600 ribu. barangnya nggak ada lagi,”

itu tadi kutipan-kutipan informasi harga tabung gas yang disampaikan ory.

temanku itu (aku juga denk) lagi butuh tabung gas 12 kg-an. maklum, kami baru mau menempati rumah baru.

tapi harga tabung gas yang terus melambung membuat kami nyaris putus asa.

tadinya kami berharap harganya akan turun lagi, eh… malah naik dan terus naik.

katanya pemerintah lagi menggalakkan penggunaan gas sebagai ganti minyak tanah,

lha kok harga tabung gas malah semakin mahal?

sungguh, ini negeri yang aneh.

Tuhan…

aku lelah

sangat lelah

tidak bisakah cobaan ini disederhanakan?

menuju pernikahan ternyata tidak mudah. tidak mudah karena begitu banyak yang harus diurus. padahal aku maunya cuma ijab kabul thok. bagaimana yang bikin pesta gede-gedean ya?
belum apa-apa aku sudah ditanya soal ktp. kayaknya sudah hampir setahun ini aku nggak punya ktp. baik sebagai warga magelang maupun sebagai warga banyumas. padahal katanya bikin ktp sekarang ini nggak mudah. kalau di banyumas, menurut yang sudah pada buat, bisa sampai satu bulan lebih. nggak tau kalau di magelang. yang pasti ini juga akan repot karena aku mesti meninggalkan kantor di hari kerja.
itu baru ktp, belum surat-surat lainnya. itu juga baru dari pihakku, buat tomatto itu pasti lebih rumit lagi. karena kalau kita nikah di magelang berarti dia harus ngurus berbagai syarat administrasi baik ke cilacap maupun ke magelang.
“mendaftar nikah harus satu bulan sebelumnya lho mbak,”kata juni yang baru saja nikah. halah…apa lagi ini. lha, kalau bikin ktp saja satu bulan, lalu mendaftar nikah satu bulan sebelum pernikahan, berarti kapan aku bisa nikah???

menikah ternyata juga tidak murah (buat aku dan tomato lho…). biar pun rencananya cuma ijab kabul, tapi biaya yang dikeluarkan tetap tidak sedikit. apa lagi beberapa bulan ini kebutuhan kami sedang banyak-banyaknya. renovasi rumah yang nggak rampung-rampung, harus urunan bikin kantor biro iklan, ditambah harus mempersiapkan biaya pernikahan. (lha…ngisi rumahnya pakai apa?)

btw, semoga ini hanya seperti kata pepatah, “berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian. bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.”
dan semoga semua kesulitan ini akan berakhir dengan indah.

minggu kemarin (17/2) keluarganya tomato menemui orang tuaku. mereka bertanya apakah aku sudah ada yang memiliki. dan bapakku menjawab, selama ini aku baru dimiliki orang tuaku.

so…mereka meminta aku buat anaknya. ih…aku dilamar. sebagai pengikat, aku diberi cincin. setelah acara pemakaian cincin dan tentu saja difoto, resmilah aku menjadi calon  istrinya tomato, ciku ciku-ku.

jadi nikahnya kapan? kapan ya?

haruskah aku menjadi pengantinmu

saat bukan aku yang bermain dalam benakmu

saat bukan aku yang setiap malam menemani mimpimu

saat bukan aku yang menjadi bagian dari cita-citamu

 haruskah aku melangkah ke gerbang itu

jika di sampingku hanya ragamu, bukan jiwamu.

 (diterjemahkan secara ngawur-ngawuran, dari entah lagu atau puisi)

 

aku dan tomatto berencana menikah.

tapi rasa takut seperti kutipan di atas masih membayangiku.

aku tidak tau bagaimana harus mengatasinya.

apakah setiap orang yang mau menikah memang punya ketakutan semacam itu?

kadang tiba-tiba aku ingin putus aja dengan dia. biar aku menjadi wanita yang diam-diam dia kirimi sms, dia abadikan lewat blog, dia kirimi lagu-lagu patah hati atau setidaknya ketika dia memutar berulang kali lagunya republik “hanya ingin kau tau” aku akan tau bahwa dia mengabadikan sebuah rasa untukku.

tapi aku wanita yang akan menikah dengannya,

dan aku takut jika aku bukan wanita yang ada dalam hatinya.

bukan belahan jiwanya dan bukan mimpi-mimpinya.

aku berharap di suatu tempat kamu membuka internet dan membaca tulisan ini.

mengapa kamu nggak bisa melihat sebuah bukti nyata bahwa aku selalu mempercayaimu?

selama aku masih setia padamu, itu bukti aku mempercayai semua perkataanmu.

aku percaya saat kamu bilang mencintaiku, aku percaya saat kamu bilang akan menikah denganku, aku percaya saat kamu bilang hanya ada aku di hatimu, aku percaya saat kamu bilang kita akan baik-baik saja, aku percaya dengan semua cita-citamu, aku percaya saat kamu bilang semua akan menjadi indah pada waktunya, aku percaya, percaya pada semua kata-katamu.

tolong, belajarlah percaya bahwa aku mempercayaimu. lihat dengan hatimu kamu akan menemukan jawaban yang sebenarnya.

pulanglah, kami semua menunggumu.

di mana pun kamu berada, aku sangat merindukan kebahagiaan kita.

reunion_cake.jpg

Selamat ulang tahun kekasihku

semoga hujan yang turun pagi ini membawa berkah bagimu

menyuburkan rasa cintamu padaku hingga berurat akar  dan berbuah

menumbuhkan setiap benih usaha yang kau semai menjadi pohon keberhasilan

Selamat ulang tahun kekasihku

Semoga Tuhan selalu bersamamu

*gambar kue diambil dari  micko.vitrolenta.net

+ “Mengapa kamu mau bersamaku?”
– “Karena aku mencintaimu.”
– “Kamu, kenapa mau sama aku?”
+ “Aku juga mencintaimu.”

Dan hanya karena itu kita bersama

Kita sama-sama pernah terluka
Kita sama-sama pernah merasakan sakit

Karena itu kita tak akan pernah saling melukai
Karena itu kita tak akan pernah saling menyakiti

Aku dan kamu akan menjadi kita
Menjadi sepasang tangan yang akan meraih mimpi
Menjadi sepasang kaki yang berjalan menuju masa depan

Kali ini kita hanya akan bercinta
Kali ini kita hanya akan bahagia

(ini bukan puisi, hanya sebuah doa di pagi buta. Semoga Tuhan mengabulkannya. Amien)

Kalau ada orang lain (maksudnya bukan keluarga, bukan kekasih atau sahabat) yang paling aku rindukan saat ini adalah Mak Judi. Dia yang selalu mencuci dan menyeterika baju-bajuku. Seminggu dua kali dia juga bersih-bersih rumah. Klau aku sakit dia juga biasa datang untuk ngerok dan mijitin.

Tapi sejak sebelum puasa dia pergi ke Bandung. Menantunya meninggal dan dia harus menunggui cucu-cucunya di sana. Semula janjinya setelah lebaran dia akan balik ke Purwokerto, ternyata sampai sekarang belum muncul-muncul juga.

Yang merasa kehilangan bukan hanya aku. Mak Judi adalah perempuan yang kuat dan sehat. Tiap hari dia menjadi asisten rumah tangga di keluarga Pak Yani. Di sela-sela itu, dia masih membantu di rumahku, rumah Bu Siti dan tempat Bu Naryo. Jadi ketika Mak Judi pergi, tentu saja banyak yang kehilangan.

Sejumlah nama dimunculkan untuk menjadi pengganti Mak Judi. Mereka ini lalu diujicobakan. Tapi tampaknya belum ada yang cocok bagi kami semua. Rasanya nggak ada yang kerjaannya seberes Mak Judi.

Dan terakhir muncullah nama mbak-mbak ini. Tapi sayangnya dia sedang hamil. Aku langsung saja menolak ketika nama itu disodorkan. Bukan apa-apa, rasanya nggak tega banget. Apa lagi dia harus naik ke lantai dua untuk menjemur cucian.

Tapi sore itu aku hampir nggak bisa nolak ketika Bu Naryo, tetangga sebelah kembali menawarkan jasa mbak-mbak itu. “Ngga apa-apa mbak,  katanya kandungannya sehat. Dia sedang butuh uang buat beli popok kalau nanti anaknya lahir?” kata Bu Naryo.

Aku tidak langsung memberikan jawaban. Masih ada perang batin. Hmm…bagaimana ya, mempekerjakan perempuan hamil gede. Tapi dia butuh uang buat beli popok. Dan ini satu-satunya keahlian dia untuk mendapatkan uang. Pilihan yang sulit.

Aku terus memikirkannya. Perempuan hamil gede, harus cari-cari kerjaan seperti ini, emang suaminya kemana? Ngapain aja? Tapi ya sudah lah nggak usah ngurusin suaminya. Mungkin si suami juga dah kerja mati-matian tapi tetap nggak cukup buat membiayai persalinan dan membeli kebutuhan bayinya. Yang pasti, perempuan itu butuh uang.

Akhirnya aku memutuskan untuk menerimanya. Semoga ini pilihan yang tepat.